PENYAPU JALANAN

Peliput : Lukman

Foto : aldino Rumriansyah

Jakarta, dnewsbsi 28/12/2010

dnewsbsi.wordpress.com

Sosok Penyapu jalanan adalah Sosok yang Terlupakan oleh kita saat ini. tanpa kita Sadari, sosok inilah yang berjasa untuk negara, karena pekerjaan menyapu jalanan adalah Pekerjaan yang belum tentu siapapun mau.. Pak Ali Sapto (59) tinggal di jalan Menteng Jaya, mempunyai 2 anak dan seorang Istri, Beliau sudah mengabdi pekerjaan menyapu jalanan ini sekitar 20 tahun.. Mengapa beliau begitu semangat? apa motivasi Beliau untuk tetep terus berkerja nyapu jalanan ?? beliau Jawab “yaa, semangat saya tuh, bersih-bersih jalanan dek, saya mau jalanan tuh tetep bersih, kalo ga ada saya dek siapa yang mau bersihin, sehari aja saya ga bersihin, jalanan ini udah banyak sampah, apalagi kalo berminggu-minggu sampe berbulan-bulan”.

Beliau berkerja dari jam 5 subuh sampe jam 4 sore, menyapu jalanan dari gedung proklamasi sampai depan Gedung Bioskop Megaria tanpa libur, dan hanya di Bayar Rp. 25.000 tiap harinya, apakah Pantas ?,

Adakah Suka dan duka dalam pekerjaan ini ?? beliau jawab ” yaa.. suka nya sih kalo saya lagi nyapu ada orang baek, ngasih uang atau ga minuman, tapi yang paling buat Bapak kesel,  kalo ada orang pas jalanan udah selesai di bersihin, tuh orang buang sampah sembarangan.. ngebuang aja tuh sampah ke jalanan, padahal udah di sediain tempat sampah.”,


Apa Harapan Bapak ? “harapan saya sih de yah.. supaya Orang-orang sadar aja akan kebersihan dan Pemerentah juga bisa ningkatin taraf hidup kita selayaknya, itu aja”. Mendengar jawaban dari Pak Ali itu harusnya bisa membuat orang-orang untuk sadar menjaga kebersihan dan harus bisa membuang sampah pada tempatnya, untuk Jakarta yang asri, & bersih, dan juga untuk mencegah dari musibah banjir, bayangkan jika 1 orang buang 1 sampah yang dia liat di jalanan, gerakan itu lah yang di butuhkan saat ini.. jadi mulai sekarang yuk kita Buang Sampah Pada Tempatnya. alangkah lebih baik lagi kita daur ulang.

POPULASI BECAK

Peliput : Damar Colbie

Foto : Sultan Ardien

Jakarta, dnewsbsi 5/01/2011

dnews.bsi.wordpress.com – bisa dikatakan sudah jarang sekali ada di Jakarta ini, di karenakan banyaknya penggunaan Kendaraan pribadi. maupun kendaraan umum di Jakarta.. tapi tunggu dulu, Jak-plus kali ini membahas Tentang becak di Jakarta dan juga tokoh dibalik becak itu sendiri yang masih Beroperasi di Jakarta ini.Pak Dawono (43) , beliau tukang becak yang ulet dan tekun, menurut kawannya yang biasa Beroperasi bersama dia, Pak Dawono biasa menarik Becak dari jam setengah 4 sampe jam 12 itu pun kalo sedang ramai, kalo sepi bias

anya Pak Dawono menarik hanya sampai jam 11, Pak Dawono menarik becak dari tahun 2003 sampe sekarang. yang membuat ia bertahan & tetap semangat dalam Menarik becak a

dalah Keluarganya, dan faktor susahnya mencari pekerjaan yang cocok di Jakarta ini.

Pak Dawono adalah salah satu dari 20 orang tukang becak yang masih bertahan , Beliau punya cerita menarik, tentang suka dan duka dalam menjalani pekerjaannya ini, biasanya sebelum kasus Mbah Priok itu, Beliau dan kawannya sering sekali “main kucing-kucingan” dengan Sat Pol PP, karena memang becak entah sudah tidak di perbolehkan beroperasi atau memang ada faktor lainnya, tapi setelah kasus Mbah Priok itu, beliau sudah gak pernah lagi “main kucing-kucingan” dengan Sat Pol PP.. Beliau Berpenghasilan sehari minimal Rp. 50.000,- , selain mengangkut penumpang, dia juga mengangkut barang di becaknya tersebut.

PENGAMEN (THE TAMSUR)

Peliput : Roza Febrika

Foto : Putra arie

Jakarta, dnewsbsi 6/01/2011

dnewsbsi.wordpress.com – Seperti kita tahu bahwa salah satu profesi yang paling favorit dijalankan oleh orang-orang yang tidak memiliki pekerjaan tetap adalah menjadi pengamen baik secara sendiri-sendiri maupun berkelompok. Mengamen tidak harus bernyanyi tetapi juga bisa hanya memainkan alat musik atau hanya bertugas menarik uang receh dari pendengar ngamenan. Pengamen ada di mana-mana mulai di perempatan jalan raya, di dalam bis kota, di rumah makan, di ruko, di perumahan, di kampung, di pasar, dan lain sebagainya. Penampilan pengamen pun macam-macam juga mulai dari tampilan yang biasa saja sampai penampilan banci / bencong, anak punk, preman, pakaian muslim, pakaian pengemis, pakaian seksi nan minim, dsb. Pengamen terkadang sangat mengganggu ketenangan kita akan tetapi mau bagaimana lagi. Jika mereka tidak mengamen mereka mau makan apa dan daripada mereka melakukan kejahatan lebih baik mengamen secara baik baik walawpun mengganggu. Mengamen adalah salah satu pekerjaan yg sangat di sanjung semua orang karena mengamen itu bersifat halal tidak sama sekali merugikan orang banyak. Dari hasil liputan kami di sebuah taman kota yang tepatnya di Taman Suropati, terdapat pengamen yang sudah tidak asing lagi di kawasan taman tersebut karena beliau mempunyai ciri khas dan julukan di taman tersebut yaitu The Tamsur. The tamsur ini adalah seorang pengamen yang mengamennya bersolo karir dengan guitar kesayangannya. Beliau ini sangat tebar di taman suropati karena beliau mempunyai suara yang begitu sanagt merdu dan handal dalam memainkan guitarnya. Nama beliau aldi. Beliau berasal dari kota brebes dan dia hijrah ke Jakarta dari tahun 2002. Sebelumnya di kota asalnya beliau mempunyai sebuah band tetapi ketidakseriusan teman – teman bandnya yang membuat bandnya bubar begitu saja dan akhirnya beliau sangat tekad untuk hijrah ke ibu kota demi mencari rupiah yang halal. Di taman suropati sangat amat banyak yang mengenal beliau karena talenta beliau yang sangat luar biasa. Requestan lagu sangat tumpah buat beliau untuk para pengunjung taman dan lagu yang sangat beliau banggakan adalah lagu ciptaan beliau sendiri yang berjudul Sang Presiden. Lagu tersebut sangat di dedikasikan untuk pemimpin negara bangsa ini. Isi lagu tersebut adalah mengkritik dan mengupas apa saja yang sudah di lakukan bapak presiden kita untuk bangsa ini. Beliau tidak hanya handal dalam bermain guitar tetapi beliau juga sangat handal bermain harmonikanya. Lagu-lagi romantis selalu di lantunkan oleh beliau untuk para pasangan yang sedang bersantai di taman suropati. The Tamsur adalah sesosok pengamen yang sangat bersinar di kawasan taman suropati.

ROSID SOPIR KAKI SATU

Peliput : Arma

Penulis : Rahutama Sukma Wardhana

Jangan pernah menyerah ,Mas”.Itulah kata yang akan di ucapkan oleh Bapak Rosid,seorang pengemudi Bemo dibilangan terminal Manggarai.Dilihat mungkin profesi Bapak Rosid yang berumur 60 tahun ini terbilang biasa,namun yang tak biasa adalah beliau mengemudikan Bemo miliknya hanya dengan satu kaki,ya Bapak Rosid adalah salah satu dari sejuta penyandang cacat di Negara ini.

Keterbatasan yang ada pada dirinya tak membuat ia murung untuk melakukan pekerjaan layaknya orang normal lainnya.Semasa muda Beliau lewati dengan bekerja sebagai tukang reparasi jam dan pedagang yang juga berada di daerah manggarai.Sampai akhirnya ia menjadi sopir Bemo dikarenakan bangunan dagangannya digusur oleh pemerintah,namun itu tak membuat Bapak Rosid menyerah.Beliau mulai mempelajari bagaimana cara mengendarai Bemo hanya dengan satu kaki.

Walau dapat dikatakan Bapak Rosid sudah cukup tua,namun semangat yang ada pada dirinya masih menyala-nyala.Kadang ia merasa miris melihat orang-orang lain yang masih berbadan sehat namun tidak melakukan pekerjaan apapun,hanya mengandalkan meminta-minta.Dan Beliau juga berkata “Anak muda zaman sekarang terlalu manja”,itulah ucapan perihatin Beliau melihat generasi muda sekarang.Tak salah memang tanggapan Beliau melihat kehidupan anak muda zaman sekarang.

Sekarang beliau sudah memiliki Tiga orang anak dan Lima cucu.Bapak Rosid menjalani hidupnya dengan normal tanpa memikirkan keterbatasannya.Mungkin masalah umur saja yang menghambatnya.Kini Beliau tidak lagi narik (mengemudikan-RED) mobil Bemonya hingga malam lagi,namun di gantikan oleh anak ke Duanya saat sore hari.

Satu hal yang sangat Beliau rasakan ialah kurangnya kepedulian Pemerintah terhadap para penyandang cacat,terutama mereka yang kurang mampu.Harapan Bapak Rosid agar Pemerintah lebih memperhatikan dan memberi lapangan kerja bagi para penyandang cacat lainnya.”Kami mungkin cacat,tapi kami masih berguna!”,itulah ucapan semangat Bapak Rosid.

Wanita Yang Tangguh

peliput : siti Julaeha

Foto : Septian

Ibu Purwati, 50 tahun, seorang ibu rumah tangga dan seorang pekerja di sebuah bengkel milik suaminya, Bapak Sutimbang. Ibu Purwati bekerja di bengkel ini sudah 5 tahun. Bengkel yang sudah berdiri sejak 15 tahun yang lalu ini, sekarang Ia yang menjalaninya bersama anak laki – laki nya, Sugiharto, yang sering akrab di panggil Ugie. Sebelum bekerja di bengkel milik sang suami, ibu Purwati memiliki warung nasi selama 3 tahun yang akhirnya tutup karena semakin tingginya harga sembako, pendapatan dari hasil membuka warung nasinya itu, tidak cukup untuk membiayai keluarganya dan untuk membeli bahan – bahan nya lagi. Jadi ibu Purwati memutuskan untuk meneruskan bengkel suaminya.

Ibu Purwati memiliki dua orang anak. Yang pertama perempuan yang bernama Asni Wijianti, 22 Tahun, yang sudah bekerja di sebuah hotel di Jakarta sebagai cleaning service. Dan yang kedua bernama Sugiharto, 20 Tahun, yang sekarang bekerja membantu ibunya di bengkel. Bengkel yang didirikan di pinggiran rel kereta api di kawasan Ancol, Jakarta Utara ini, telah mengalami banyak cerita dan sering kali di bongkar oleh petugas Satuan Polisi Pamong Praja yang lebih di kenal dengan sebutan Satpol PP. Namun karena niat yang baik dari ibu Purwati untuk membantu perekonomian keluargannya, setiap kali petugas datang untuk membongkar, ibu Purwati berusaha meredam aksi para petugas.

Ibu Purwati tak kenal kata menyerah, meski anak pertamanya telah bekerja,namun beliau tidak menuntut lebih dari sang anak. “ Asal saya, bapak, dan adiknya bias makan saja, saya sudah cukup. Saya tidak pernah memaksa Asni untuk harus memberi sedikit penghasilannya sama saya, itu kesadaran dia aja. Alhamdulillah dia anak yang pengertian”. Begitulah pernyataan dari Ibu Purwati yang di temani Asni, anaknya yang sedang libur bekerja.

Bengkel motornya memang tidak pernah sepi dari orang – orang yang ingin menggunakan jasanya yang buka setiap hari dari pukul 7 pagi hingga pukul 7 malam. Dalam sehari beliau bisa mendapatkan penghasilan rata – rata Rp. 100.000. ibu Purwati bisa melakukan semua pekerjaan yang seharusnya di lakukan oleh lelaki. Seperti Tambal Ban, Mengisi Bensin Eceran, Mengisi Angin, Dan lain – lain.

Ibu Purwati tidak pernah mengeluh dalam menjalani pekerjaannya. Semua Beliau lakukan demi keluarga. Saya melakukan semua ini dengan ikhlas Mba, jadi pekerjaan akan terasa ringan dan rezeki selalu saja ada untuk saya dan keluarga”. Katanya

Dalam usianya yang sudah cukup renta, seharusnya Ibu Purwati bisa menikmati hidup, tapi Ibu Purwati wanita yang tangguh dan tegar. Bekerja demi keluarga. Asal keluarga bisa bahagia, Beliau juga pasti Bahagia. “ itulah kebahagiaan yang saya miliki saat ini Mba” Ucap Ibu Purwati di akhir perbincangan kami.

Advertisements